Bahasa dan Kaum Intelektual

Majalah Tempo, 14 Apr 2013. Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo

Bahasa menentukan otoritas intelektualitas saat Indonesia menapaki abad ke-20. Kartini memilih bahasa Belanda untuk memasuki pengembaraan intelektual, mencari dan menemukan keajaiban-keajaiban modernitas. Bahasa Belanda menjadi berkah, membentuk identitas dan kehendak menjadi intelektual. Buku-buku berbahasa Belanda ibarat bacaan keramat. Kartini memang perempuan Jawa, hidup di Jawa, dan bersama orang-orang Jawa. Pesona tak muncul dari bahasa Jawa, bahasa lawas dan misterius. Hasrat mendapat pesona dunia justru terwujud oleh bahasa Belanda, bahasa milik penjajah.

Kartini tak sekadar terpikat dan terikat oleh bahasa Belanda. Dia ingin berjalan ke Barat, memetik hikmah-hikmah modernitas. Kartini hidup di Jawa, tapi sanggup mengalami keajaiban saat mengolah diri dengan bahasa Belanda. Kita mengenang Kartini sebagai intelektual, menulis dalam rangsangan nalar modern dan perasaan-perasaan dramatis. Pilihan bahasa adalah pilihan nasib. Kartini menjadi referensi perubahan di ujung abad ke-19, tokoh dilematis berlatar modernitas dan feodalisme di Jawa. Bahasa Belanda pernah memberi terang bagi Kartini, sekejap tapi menakjubkan.

Biografi Kartini berbeda dengan biografi Sida, orang desa yang berhasrat jadi bagian dari zaman kemadjoean. Sida adalah tokoh dalam Tjarijos Lelampahanipoen Sida (1917) garapan Mas Sastradiardja. Buku cerita berbahasa Jawa ini mengisahkan kehendak bocah desa menjadi kaum terpelajar, manusia modern di Jawa. Keinginan Sida adalah menjadi guru. Sida bersekolah, belajar pelbagai mata pelajaran. Penguasaan bahasa mempengaruhi keberhasilan mewujudkan cita-cita, mengerti dan memiliki dunia modern. Keinginan jadi guru berbekal kemampuan bahasa Jawa, Melayu, Arab, dan Belanda. Buku itu tak mengisahkan keajaiban bahasa Belanda dalam biografi lelaki dari desa.

Kartini mengalami pengekangan tradisi, tapi bisa mengalami kemodernan melalui membaca-menulis dengan bahasa Belanda. Biografi Kartini terbentuk oleh bahasa Belanda. Kartini ialah manusia modern saat Jawa bergerak ke modernisasi. Sida adalah manusia bersahaja tanpa terlena dalam buaian bahasa Belanda. Zaman pun berubah. Bahasa Jawa tetap ada meski bersaing dengan bahasa Belanda dan Melayu. Soetomo, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat juga tampil sebagai pengisah zaman kemadjoean. Mereka lahir dan tumbuh bersama bahasa Jawa, Melayu, dan Belanda. Kaum intelektual itu selalu mengalami dilema, mengolah identitas diri dalam sengketa bahasa.

Pilihan bahasa terbentuk oleh sekolah, buku, koran, organisasi, dan pekerjaan. Kartini telah menunaikan misi perubahan dengan bahasa Belanda. Misi juga dijalankan Boedi Oetomo (1908), yang bermisi pendidikan dan adab. Kaum intelektual bersepakat menjadi pewarta dan penggerak zaman. Pilihan bahasa menentukan pengaruh ide. Mereka sering mengalami kebingungan, ragu dalam berbahasa. Wahidin Soedirohoesodo (1905) mengajukan usul aneh mengenai agenda-agenda kemadjoean. Tokoh asal Jawa itu menganggap kaum muda dan kaum tua berhasrat maju, tapi kesulitan berbahasa Belanda (Akira Nagazumi, 1989). Kemadjoean bukan cuma milik kaum intelektual di perkotaan. Propaganda ide juga mesti dijalankan dengan penerbitan buku dan koran berbahasa Jawa agar ada tanggapan dari desa. Boedi Oetomo pun berjalan di persimpangan bahasa.

Modernisasi di abad ke-20 terbentuk oleh bahasa Belanda. Kartini dan Boedi Oetomo turut berperan besar. Bahasa Belanda memberi terang dunia, merangsang agenda-agenda perubahan. Mereka membaca-menulis dengan bahasa Belanda. Kesanggupan memperalat bahasa Belanda membuktikan tanggapan atas dominasi kolonial. Kita bisa mempela­jari ide-ide mereka meski kerepotan jika tak ada terjemahan dalam bahasa Indonesia. Buku-buku sejarah dan biografi para tokoh di masa awal abad ke-20 sering bergantung pada referensi-referensi berbahasa Belanda.

Kaum intelektual pada 1920-an telah bermufakat memilih bahasa Indonesia untuk modal perubahan, dari negeri terjajah menjadi negara merdeka. Pilihan itu mengandung makna politik, intelektual, estetika, dan adab. Ingatan masa silam berubah saat kaum intelektual tak menampilkan diri sebagai pemuja bahasa Belanda. Seruan-seruan menggunakan bahasa Indonesia terus disampaikan oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Mohammad Hatta, Slamet Muljana, dan Ajip Rosidi. Mereka masih berharap bahasa Indonesia sanggup mewujudkan ide dan imajinasi demi Indonesia. Bahasa Indonesia adalah modal perubahan, memartabatkan Indonesia. Pengharapan itu tak bisa terkabulkan.

Kaum intelektual di Indonesia mulai kesulitan menggunakan bahasa Indonesia saat mengajukan ide. Mereka sering tergoda menggunakan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia berdalih kepantasan menjadi intelektual-global di abad ke-21.

Bahasa Belanda telah jadi sejarah di Indonesia. Bahasa Jawa bernasib jelek. Bahasa Indonesia belum sanggup mengisahkan Indonesia. Bahasa Inggris justru lebih sering digunakan untuk menganalisis sejarah dan politik di Indonesia. Kaum intelektual mesti mawas diri untuk tak abai sejarah dan mengajukan pertanggungjawaban atas pilihan bahasa demi Indonesia.

Sumber gambar: Sesawi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s