Sindrom Kabayan

Bagja Hidayat* (Majalah Tempo, 26 Mei 2014)

Ketika ujian nasional pekan lalu, di media sosial beredar lembar soal yang sudah dijawab seorang murid sekolah dasar. Nilai ujiannya nol karena siswa itu hanya menjawab “benar” dan “jujur” untuk setiap pertanyaan mata ajaran pendidikan kewarganegaraan. Guru yang menilainya menganggap dua jawaban tersebut keliru dan kesalahan itu menunjukkan kegagalan siswa memahami petunjuk soal.

Benarkah begitu? Petunjuknya memang berbunyi “Jawablah pertanyaan dengan jujur dan benar”. Apa yang keliru? Anak itu telah melaksanakan petunjuk dengan patuh. Dan ia mendapat nilai nol untuk kepatuhannya itu. Tak ada yang bisa melakukan verifikasi apakah lembar soal dan jawaban itu benar-benar terjadi atau keisengan seseorang untuk menertawai petunjuk soal dalam ujian nasional yang tak jelas dan lebih rumit daripada pertanyaannya.

Makna yang dihasilkan dari susunan kalimat dalam petunjuk itu tak sama dengan pemahaman si anak atas makna yang hendak disampaikan penulisnya. Bagi pembuatnya, petunjuk itu bermakna perintah agar para siswa menjawab setiap pertanyaan secara jujur dan benar mengacu pada isi pertanyaannya. Siapa yang keliru dalam memahami makna kalimat yang terkandung dalam petunjuk soal itu?

Bahasa Indonesia menyediakan ruang saling salah paham memaknai sebuah kalimat karena arti ganda yang dihasilkannya.

Barangkali benar apa yang disimpulkan oleh Richard D. Lewis dalam When Cultures Collide. Ahli komunikasi dari Inggris yang fasih berbicara dalam sebelas bahasa ini menyimpulkan bahwa para penutur bahasa Indonesia kerap memakai kata dan kalimat yang ambigu dan eufemistis. Dalam buku yang edisi ketiganya terbit akhir tahun lalu itu, Lewis menyimpulkan bahwa bahasa Indonesia tak cukup efektif dalam diplomasi dan negosiasi ketika lawan bicaranya seorang penutur bahasa yang terbiasa memakai kalimat denotatif.

Untuk sebagian orang Indonesia, bahasa Indonesia adalah bahasa asing.

Ia berawal dari bahasa Melayu Riau yang dipilih sebagai bahasa pemersatu oleh para aktivis dan politikus pada 1928. Sejak itu, para penutur bahasa dari suku lain memakainya dalam percakapan resmi, selain karena diajarkan di sekolah. Bahasa-ibu hanya dipakai dalam pembicaraan-pembicaraan informal. Maka bahasa Indonesia perlu dipelajari sungguh-sungguh.

Dalam perkembangannya, bahasa ini berubah dalam struktur dan kaidah pemakaiannya. Sampai 1980, bahasa Indonesia mengacu pada bahasa Belanda. Kini bahasa Indonesia lebih berkiblat pada bahasa Inggris, karena bahasa Inggris merupakan bahasa asing yang paling banyak dipelajari orang Indonesia. Menurut Lewis, bahasa Inggris cenderung menghindari konfrontasi, santun, dan humor yang tak efisien.

Penutur bahasa Indonesia terbanyak adalah orang Jawa dan Sunda, karena populasi dan persebaran suku ini hampir ada di seluruh wilayah. Bagi orang Jawa dan orang Sunda, bahasa adalah seloka: kata dan kalimat tak mesti mengacu pada makna sebenarnya. Konon, bahasa Jawa dan Sunda paling banyak punya padanan untuk menyebut penis dan vagina. Dengan undak-usuk yang ada dalam bahasa-ibu mereka, bahasa Indonesia yang berasal dari suku yang suka blakblakan menjadi cenderung eufemistis.

Budaya yang menganggap tak berbicara langsung pada makna sebenarnya sebagai ukuran kesopanan kian mendorong bahasa Indonesia menjadi ambigu.

Bagi orang Jawa dan Sunda, kata “aku” dan “kau” agak kasar karena menunjuk langsung, sementara “Anda” terlampau formal. Dalam pidato-pidato, kita sering mendengar seorang pembicara berkata, “Salam sejahtera untuk kita semua.” Alih-alih “Anda”, “kita” dipakai untuk menyembunyikan kekurangajaran berbicara secara langsung karena penutur menjadi terlibat menerima salam. Bagaimana bisa salam ditujukan untuk diri sendiri?

Eufemisme kian meluaskan kesalahan berbahasa karena penutur bahasa Indonesia kerap keliru memakai kata ganti. “Kita sudah laporkan situasi ekonomi kepada presiden” kerap kita dengar. Padahal, semestinya, kata ganti yang tepat adalah “kami”. Di beberapa daerah Jawa Barat, demi sopan santun, “kita” bahkan dipakai untuk kata ganti orang kedua, “kamu”.

Maka beginilah bahasa Indonesia hari ini: mengacu pada struktur bahasa Inggris dan penutur terbanyaknya orang Jawa dan Sunda. Dua-duanya punya kecenderungan eufemistis dan ambigu.

Siswa sekolah dasar yang menjawab “jujur” dan “benar” itu hanya bisa ditandingi oleh Kabayan, bodor-jenius yang lahir dari kesenangan orang Sunda berkelakar. Alih-alih menimba air, Kabayan tidur di bak mandi ketika disuruh Abah, mertuanya, mengisi kulah.

*) Wartawan Tempo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s