Pernalaran

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 17 Agu 2014

Pernalaran dapat diartikan sebagai proses bernalar, yakni kegiatan berpikir secara teratur berdasarkan aturan logika. Dalam keseharian, proses bernalar yang mengikuti aturan logika itu sering disebut (kegiatan) analisis.

Menurut para ahli, kemampuan bernalar tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan seseorang. Orang yang ber-IQ tinggi belum tentu mampu bernalar jernih jika tidak terlatih. Sebaliknya, orang yang ber-IQ sedang-sedang saja dapat bernalar jernih jika rajin berlatih. Jadi, kuncinya adalah berlatih, berlatih, dan berlatih.

Baca lebih lanjut

Ekonom atau Ekonomis?

R. Tuwoliu Mangangue*, KOMPAS, 16 Agu 2014

Kata-kata dalam bahasa Indonesia, selain diserap dari bahasa daerah yang ada di Tanah Air, berasal dari bahasa asing. Inggris dan Belanda merupakan bahasa asing yang banyak diserap kata-katanya ke dalam bahasa kita. Kata musician dalam Inggris atau musicus dalam Belanda disebut musisi dalam Indonesia. Kata politician dalam Inggris atau politicus dalam Belanda dalam Indonesia disebut politisi. Kata legislator dalam Inggris atau legislatuur dalam Belanda dalam Indonesia disebut legislator.

Kecenderungan bahasa Indonesia rupanya berorientasi ke bahasa Inggris daripada ke bahasa asing lain. Namun, kadang-kadang kita tidak konsisten dengan orientasi ini.

Dulu kita memiliki beberapa adjektiva dalam bahasa Indonesia yang berakhiran -il seperti spirituil, insidentil, dan komersiil yang diserap dari adjektiva bahasa Belanda yang berakhiran -eel atau -ieel seperti spiritueel, incidenteel, dan commercieel. Namun, kini adjektiva itu tidak digunakan lagi karena orientasi bahasa kita telah berubah dari bahasa Belanda ke bahasa Inggris.

Baca lebih lanjut

Terjemahan

Goenawan Mohamad, Majalah Tempo, 11 Agu 2014

Lost in TranslationSaya tak mengerti mengapa film Lost in Translation disebut demikian. Karya Sofia Coppola ini bercerita tentang dua orang Amerika yang semula tak saling kenal di sebuah negeri asing, Jepang, dan akhirnya jadi akrab dan mesra, tapi tetap berpisah.

Mungkin di sini translation telah jadi sebuah kiasan. Terjemahan selalu mengandung momen pertemuan yang intens, bukan sekadar perjumpaan, dan dalam tiap pertemuan ada yang hilang, dilepas, tapi ada hal lain yang didapat. Kalaupun beberapa elemen tak kembali ketika sebuah karya dialihbahasakan ke dalam bahasa lain, selalu ada yang muncul baru.

Baca lebih lanjut

Jebred, Jebret, dan Jepret

Beni Setia*, Riau Pos, 10 Agu 2014

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1995) memuat lema nekad dan nekat. Lema nekad (yang tidak dirinci maknanya) dirujuk ke lema nekat (yang memiliki pendadaran makna lebih rinci). Artinya, nekat dianggap sebagai bentuk yang baku, bukan nekad. Sayang, tak diterangkan asal usul kedua lema itu. Apakah nekat itu memang berasal dari bahasa Jawa, seperti biasa terujuk dalam rumusan banda nekat ‘modal nekat’. Padahal, yang sebetulnya banda itu kukuh bergabung dengan donga: banda donga ‘modal doa’.

Mengapa kita (setidaknya penulis) merasa nekad lebih baku daripada nekat? Mungkin, karena nekat bercita rasa lokal, diserap dari bahasa Jawa. Anehnya, justru banyak orang yang menjadikan hal itu sebagai acuan. Contohnya, dalam pemberitaan Final Piala AFF 2013 U-19 di Sidoarjo lalu jebret tidak ditulis dengan /d/, tetapi dengan /t/.

Baca lebih lanjut

Kol Bunga dan Spidbot

André Möller*, KOMPAS, 9 Agu 2014

BERHUBUNG dengan salah satu tulisan saya di koran ini belum lama ini, seorang kawan menanyakan bentuk yang mana yang saya anggap benar: ”kali pertama” atau ”pertama kali”. Dalam tulisan itu memang tertulis ”kali pertama”, yang menunjukkan susunan kata yang tidak selumrah ”pertama kali”.

Bagi seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan berbahasa Indo-Eropa, lebih tepatnya Jermanik Utara, susunan kata dalam bahasa Indonesia jadi salah satu rintangan yang mesti dilalui ketika belajar bahasa asing ini. Dibutuhkan waktu untuk membiasakan diri menempatkan kata sifat di belakang kata benda, misalnya. Barang tentu namanya ”bola merah” dan ”cewek cantik” walaupun insting nurani berteriak ”merah bola” dan ”cantik cewek” sebelum fase ini berhasil dilalui. Ketika akhirnya hal ini sudah mengakar di dalam kepala maupun di ujung lidah si murid bahasa Indonesia, maka akan muncul beberapa kekecualian yang membuat buncah dan bingung. Mari, kita perhatikan beberapa di antaranya.

Baca lebih lanjut

Bahasa dan Idul Fitri

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 4 Agu 2014

Sejarah diri dan Indonesia turut terbentuk dari kalimat-kalimat di koran, majalah, dan kartu pos. Momentum Idul Fitri adalah perayaan bahasa. Jejak historis di Hindia Belanda mengabarkan gairah bahasa bagi publik, memberi kalimat-kalimat mengandung makna selamat dan permohonan maaf. Idul Fitri menjadi mozaik bahasa, mengajak kita melakukan produksi makna.

Ucapan Idul Fitri tampil dalam penerbitan edisi akhir koran Asia-Raya, 7 September 1945. Kalimat “minal aidin wal faidzin” tertera jelas di halaman muka, tersaji dengan ukuran besar. Pihak redaksi juga mengumumkan pelaksanaan salat Idul Fitri di Lapangan Ikada, 8 September 1945.

Baca lebih lanjut

Kembali ke Fitri

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 3 Agu 2014

Idul Fitri (sering) dimaknai kembali ke fitrah, seperti bayi yang baru lahir, dalam keadaan suci. Mungkin karena itulah kehadirannya senantiasa disambut dengan penuh antusias oleh seluruh umat Islam. Idul Fitri dianggap sebagai hari kemenangan melawan segala hawa nafsu yang membuat manusia dalam keadaan penuh dosa.

Menurut Quraish Shihab, ada tiga macam fitrah yang harus direngkuh manusia: (1) fitrah kebenaran, dalam bentuk ilmu; (2) fitrah kebaikan, dalam bentuk etika; dan (3) fitrah keindahan, dalam bentuk seni. Perpaduan antara ilmu, etika, dan seni itulah yang membuat hidup manusia menjadi tertib, rukun, dan damai. Jika diterapkan pada penggunaan bahasa, dengan demikian, kembali ke fitrah dapat diartikan sebagai berbahasa secara benar (sesuai dengan norma/kaidah), baik (sesuai dengan situasi pemakaiannya), dan kreatif.

Baca lebih lanjut

Capres Sebelah

Rainy MP Hutabarat* (KOMPAS, 2 Agu 2014)

Keistimewaan Pemilihan Presiden 2014, selain hanya ada dua calon presiden-wakil presiden yang bertarung, adalah keterlibatan ribuan relawan di seantero negeri plus tatkala Indonesia tercatat sebagai salah satu negara teratas pengguna Facebook dan Twitter. Kehadiran relawan ditunjang media sosial telah mengubah komunikasi politik dan meningkatkan partisipasi publik dalam pemilu. Jika sebelumnya komunikasi politik cenderung vertikal (dari atas ke bawah), kini horizontal (dari rakyat ke rakyat). Ini berlangsung baik di media sosial maupun pertemuan para relawan. Berpolitik yang semula dianggap berat dan kerap jahat, sekarang dialami sebagai kegembiraan: pesta rakyat.

Soal penting dalam kampanye pemilihan presiden berbasis relawan adalah bagaimana mengodefikasikan calon presiden-wakil presiden pilihan dan kubu sendiri dengan jargon bermakna, menarik, dan mudah diingat. Beberapa jargon populer muncul dalam kampanye dan pergaulan di media sosial: Salam 2 Jari, Victory, Nomor Satu Jaya, Indonesia Bangkit, dan Garuda Merah. Jargon-jargon ini dilengkapi dengan gambar-gambar yang menguatkan ungkapan tertulis.

Baca lebih lanjut

Demagogi Lagi

Kasijanto Sastrodinomo* (Majalah Tempo, 28 Jul 2014)

TIGA kali membaca kolom bahasa Rocky Gerung, “Demagogi” (Tempo, 7-13 Juli 2014), Wawa, pelajar sekolah menengah, tetap bertanya-tanya apa gerangan arti kata pada judul kolom itu. Ia merasa tak menemukan definisi demagogi yang lugas dalam tulisan tersebut. Pada teks, ia membaca demagogi (adalah) “busa kalimat”, atau “demagogi adalah ilmu menyiram angin demi menuai bau”, dan seterusnya. Baginya, ungkapan itu terasa canggih tapi sulit dipahami. Jujur ia mengaku “belum cukup umur” untuk mengerti pikiran abstrak.

Namun ia juga punya “kriteria” bahwa suatu kolom bahasa seyogianya bisa memberi penjelasan semantis yang terang.

Pertanyaan tersebut mungkin bukan sekadar soal teknis kebahasaan. Ada pantulan kesenjangan: generasi sekarang tak mengalami riuh-rendah politik masa lalu yang, mengutip sejarawan Ricklefs, penuh “janji kosong”. Isu demagogi merebak sepanjang masa Demokrasi Terpimpin yang direngkuh Presiden Sukarno kala itu. Sukarno sendiri sadar dirinya sering dijuluki demagog oleh pihak tertentu. “Ada juga yang mengatakan bahwa saya ini seorang ‘demagog’, dan ada pula yang menyebutkan saya seorang ‘fraseolog’ yang pandai memakai perkataan muluk-muluk,” katanya dalam pidato peringatan Proklamasi Kemerdekaan pada 1961.

Baca lebih lanjut

Demokrasi

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 25 Jul 2014

BAHWA demokrasi berarti pemerintahan rakyat tentu semua sudah tahu. Juga bahwa istilah itu sudah beredar sejak zaman Yunani, gabungan dari demos ’rakyat’ dan kratos ’kekuasaan’ atau ’pemerintahan’. Yang mungkin belum banyak diketahui adalah bahwa itu sistem pemerintahan yang buruk. Para bijak sudah lama mengetahuinya. Bahkan, Plato dan Aristoteles, yang dalam banyak hal berpendirian bertolak belakang seperti kondisi Venus dan Mars, sama-sama memandang rendah demokrasi.

Hanya saja, setelah bereksperimen dengan segala macam pemerintahan, akhirnya sebagian besar masyarakat manusia sampai pada kesimpulan bahwa seburuk-buruk demokrasi, ialah yang terbaik, lebih unggul daripada segala sistem nirdemokratis. Setelah naik daun turun colok selama lebih dari 2.000 tahun, versi modern demokrasi mulai mengakar dengan penetapan Bill of Rights yang memperkuat parlemen Inggris pada abad ke-17; mulai meluas dengan kemerdekaan Amerika Serikat dan Revolusi Perancis pada abad ke-18; dan akhirnya menjamur pada abad ke-20 menyusul Perang Dunia I dan II.

Baca lebih lanjut