Merubah atau Mengubah?

Dessy Wahyuni*, Riau Pos, 2 Nov 2014

Berselancar di dunia maya sangat menyenangkan. Akan tetapi, ketika web browser (perangkat lunak yang berfungsi untuk menerima dan menyajikan sumber informasi) bekerja dengan lelet, kejengkelan pun timbul. Agar dapat berselancar dengan lancar, saya mengikuti saran seorang teman untuk mengganti web browser atau penjelajah di komputer jinjing saya. Untuk itu ia menyarankan saya mempelajari langkah penggantian dengan membaca artikel yang berjudul “Cara Merubah Default Web Browser Komputer”. Awalnya jidat saya agak berkerut saat membaca judul tersebut. Karena saya memilih si Rubah Api sebagai penjelajah yang konon sangat digemari saat ini, saya memaklumi kata merubah pada judul artikel yang disarankan.

Baca lebih lanjut

Soempah…

Bandung Mawardi*, Majalah Tempo, 27 Okt 2014

Sejarah politik di Indonesia mengandung sejarah pemilihan ungkapan. Kongres Pemuda II, 27-28 Oktober 1928, memunculkan ungkapan sakral: “soempah”. Keputusan resmi mendapat sebutan agung: “Soempah Pemoeda”. Muhammad Yamin menjadi perumus untuk menjelaskan misi kaum muda demi pembentukan Indonesia. Sebutan Soempah Pemoeda mengesankan ada pertimbangan kebahasaan, sejarah, politik, dan kultural. Yamin sengaja memilih ungkapan “soempah” agar bertaut dengan sejarah kekuasaan di Nusantara dan penguatan imajinasi atas epos-epos politik. Yamin memang cerdas berbahasa demi ekspresi ide dan imajinasi Indonesia.

Baca lebih lanjut

Me(nye)mbunyikan Sumpah

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 26 Okt 2014

Dua data historis tercatat dalam perkembangan bahasa Indonesia (BI) ketika diterima sebagai bahasa persatuan pada 28 Oktober 1928. Pertama, perumusan naskah persiapan Sumpah Pemuda yang semula berbunyi “Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Melayu” (M. Yamin) diubah menjadi “Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia” (M. Tabrani). Kedua, prasaran Ki Hadjar Dewantara dalam Kongres Guru di Den Haag (1916) yang “meramalkan” bahwa bahasa Melayu akan menjadi bahasa persatuan di wilayah Hindia Belanda.

Baca lebih lanjut

Perhelatan, Dihelat, Menghelat

Kurniawan*, Majalah Tempo, 20 Okt 2014

Akhir-akhir ini, ketika memberitakan acara kesenian hingga politik, media sering menggunakan kata “perhelatan”, “menghelat”, dan “dihelat”. Istilah “perhelatan” pada mulanya lazim digunakan untuk menyebut acara perkawinan, kenduri, atau selamatan. Malah para sastrawan Balai Pustaka lebih lazim menggunakan kata “helat” saja. Nur Sutan Iskandar dalam novel Salah Pilih (1928), misalnya, menulis, “Sekalian helat dan jamu itu dilayani oleh Ibu Liah dan Asnah sekuasa-kuasanya.”

Baca lebih lanjut

Membaca (dan) Teks

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 19 Okt 2014

Teks secara umum dimaknai sebagai tulisan, hasil (dari proses) menulis. Teks dapat berisi apa saja: tentang sesuatu, baik yang ada (berwujud, konkret) maupun yang tidak ada (tak berwujud, abstrak). Teks dapat berupa penggambaran, penceritaan, penjelasan, perintah, dan argumen(tasi) penulis terhadap sesuatu itu.

Baca lebih lanjut

Ihwal “-isasi”

Tendy K. Somantri*, KOMPAS, 18 Okt 2014

Pada sebuah pertemuan penerbitan pers internasional di Bangkok, Juni 2011, saya berbincang dengan beberapa editor dari Malaysia. Perbincangan kami berkisar pada perbandingan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu. Satu hal menarik yang kami perbincangkan saat itu adalah perbandingan penyerapan kata dari bahasa Inggris oleh bahasa Indonesia dan bahasa Melayu (Malaysia).

Baca lebih lanjut

Hattrick: Dari Cristiano Ronaldo hingga Stan Van Den Buijs

Imelda Yance*, Riau Pos, 12 Okt 2014

Dalam dua pekan terakhir, istilah hattrick, hat-trick, atau hat trick tiba-tiba marak dipakai dalam pemberitaan baik di media elektronik maupun cetak di tanah air. Kalau menyebut istilah itu, pastilah para pecinta sepak bola langsung ingat kepada bintang sepak bola Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Kali ini, bukan tentang sepak bola, tetapi bersangkut paut dengan orang nomor 1 di Bumi Lancang Kuning, Drs. H. Annas Maamun, Gubernur Riau; dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sang Gubernur tersangkut masalah hukum. Dua nama mantan Gubernur Riau, Drs. H. M. Rusli Zainal, M.P. dan H. Saleh Djasit, S.H., pun dikaitkan dengan istilah itu.

Baca lebih lanjut

Berandai-andai

Sori Siregar*, KOMPAS, 11 Okt 2014

Bukan hal aneh jika sebuah institusi atau seorang individu membuat alternatif saban menyusun rencana. Minimal alternatifnya satu, tetapi tak jarang pula dua, bahkan tiga. Langkah demikian diambil sebab tak seorang pun dapat memberi kepastian.

Contohnya seperti ini. Ketika Presiden Reagan akan dilantik untuk kali kedua, cuaca di Washington DC sangat tak bersahabat. Badai salju. Dinginnya membekukan sehingga pakaian berlapis-lapis pun tak banyak menolong. Karena Gedung Putih telah membuat Plan B sebagai alternatif, masalah segera dapat dipecahkan. Acara pelantikan dipindahkan ke dalam Gedung Bundar, tempat anggota Kongres bersidang. Selesai.

Baca lebih lanjut

Spiritualitas yang Hilang

Spritualitas

Ayu Utami*, Majalah Tempo, 6 Okt 2014

Saya pernah berdebat dengan editor saya tentang suatu cara pengungkapan. Kami sedang menyiapkan novel Bilangan Fu. Satu kalimat dalam naskah saya berstruktur ini: padaku ada sesuatu. Mungkin agar pembaca mudah paham, editor ingin menyederhanakan kalimat itu dan menggantinya jadi: aku punya sesuatu. Kenapa harus pakai struktur yang rumit jika ada yang lebih jelas? Kenapa gunakan tata bahasa kuno jika ada yang modern?

Baca lebih lanjut