Kepantasan
KOMPAS, 15 Mar 2013. Kurnia JR, Pujangga.
Bahasa bukan semata-mata persoalan gramatikal, leksikal, dan ejaan. Ketika dipakai dalam komunikasi antara dua orang atau lebih, bukan hanya wacana yang bermain di situ, tetapi juga aspek ekstrinsik yang mencakup status para pelaku ujaran, relasionalitas antarpelaku, konteks situasional, juga nada yang menampilkan aspek emosional.
Suatu kalimat dengan diksi tertentu mungkin pantas dilontarkan seseorang yang tidak atau kurang berpendidikan, tetapi ditanggapi sebagai tindakan tercela kalau diucapkan oleh orang yang seharusnya ketat menjaga perilaku berkat statusnya yang terpandang di masyarakat.
Loyalis
KOMPAS, 8 Mar 2013. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Dalam beberapa hari terakhir, kata turunan loyalis cukup sering disebut dalam wacana publik. Terkait hasil sementara pemilihan kepala daerah Jawa Barat, misalnya, Kompas (25/2), menganalisis bahwa loyalis partai menjadi faktor penentu kemenangan pasangan Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar. Di sini loyalis partai mengacu pada pendukung setia partai yang mengusung pasangan itu. Begitu pula pasangan Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki, dalam pemilihan yang sama, meraup lonjakan suara di beberapa daerah pemilihan berkat coblosan loyalis partai pendukungnya.
Terhangat adalah berita tentang ”loyalis Anas” yang mundur dari kepengurusan Partai Demokrat setelah ketua umum partai itu, Anas Urbaningrum, sèlèh jabatan menyusul penetapannya sebagai tersangka perkara korupsi proyek pusat olahraga Hambalang oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (Kompas, 26/2). Namun, ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR, Nurhayati Ali Assegaf, menyangkal ada ”loyalis Anas”. Yang benar, kata dia, adalah ”loyalis partai”. Bagaimanapun, pernyataan itu menjelaskan bahwa kata loyalis bisa merujuk pada kesetiaan orang kepada individu tokoh ataupun organisasi politik.
Manusia-Manusia Hewan
KOMPAS, 1 Maret 2013. André Möller, Penyusun Kamus Swedia-Indonesia, Tinggal di Swedia.
Pekan lalu saya secara pendek membahas idiom nyamuk pers dalam kolom bahasa ini. Walaupun Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa tidak memberi penilaian atas termulia-tidaknya ucapan ini, saya mengizinkan diri berkesimpulan bahwa nyamuk pers jarang dipakai untuk menghormati para wartawan. Sebaliknya, ini adalah idiom yang agaknya merendahkan kaum pewarta.
Namun, para jurnalis tidak perlu berkecil hati karena adanya ucapan ini sebab masih banyak ucapan lain yang secara gamblang merendahkan kaum-kaum yang berbeda. Menariknya, tidak jarang ada hewan yang terlibat, seperti dalam ucapan nyamuk pers tadi. Kata politikus (yakni poli-tikus) barangkali bisa disebut sebagai ”kebetulan bahasa” (yang lucu), tapi kami boleh bertemu dengan sepupunya: tikus-tikus kantor. Iwan Fals sudah menggambarkan golongan ini dengan cukup tepat sebagai hewan/orang yang ”suka ingkar janji”, ”berenang di sungai kotor”, ”tak kenal kenyang”, dan ”cepat ganti muka”. Rupanya bukan kalangan terhormat ini, dan mungkin sebagian pembaca jadi teringat kepada lagu Fals berjudul ”Wakil Rakyat”. Kami juga kenal ucapan seperti kupu-kupu malam, kambing hitam, ular kepala dua, dan buaya darat. Idiom-idiom ini memiliki fungsi yang serupa: merendahkan martabat seseorang atau kaum dengan bantuan hewan. Selain itu, orang yang ingin kami cela dapat kami juga panggil monyet atau, lebih parah lagi, anjing.
Jenis-Jenis Nyamuk
KOMPAS, 22 Feb 2013. André Möller, Penyusun Kamus Swedia-Indonesia, Tinggal di Swedia.
Pada suatu saat di sebuah negara nan jauh seorang anak bertanya kepada bapaknya: ”Pak, hewan apa yang paling berbahaya di dunia ini? Hewan apa yang paling menakutkan?” Tanpa perlu waktu untuk merenungkan masalah ini lebih lanjut, si bapak dengan segera menjawab, ”Nyamuk, Nak. Nyamuk.” Setelah memelototi bapaknya beberapa saat seolah-olah dia kehilangan akal sehatnya, si anak terjatuh saking keras tertawanya.
Ia, yang pasti berharap akan beroleh cerita tentang ular panjang, laba-laba mistis, kuda nil ganas, atau setidaknya harimau galak, hanya disuguhi jawaban nyamuk. Sesudah pulih dari serangan ketawanya, si anak pun menyuguhkan pandangan sinis kepada bapaknya yang, seperti semestinya, merasa seperti pecundang terbesar di mata anaknya.
Negeri ini memiliki banyak jenis pesta dengan atau tanpa perjamuan makan minum. Yang kerap diberitakan di media massa, misalnya, pesta demokrasi, pesta olahraga, pesta sepak bola, pesta kesenian, pesta gol. Di situs-situs internet daftar ini bertambah panjang: pesta durian, pesta topeng, pesta budaya, pesta adat. Semua pesta ini dirayakan dengan sukacita dan keterbukaan terhadap tetamu. Jakarta Night Festival dan Pesta Tahun Baru warga Ibu Kota dihadiri warga kota-kota sekitar. Pesta gol disambut teriakan histeris oleh para pendukung kesebelasan.
