Neokolonialisme

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 31 Agu 2014

Apa yang terjadi sekarang ini sesungguhnya hanyalah pengulangan kejadian di masa lalu dalam bentuk lain. Jika dulu ada modernisasi, sekarang ada globalisasi. Keduanya tak pelak merupakan gerakan negara-negara maju (terutama Eropa dan Amerika) yang dilakukan bersama-sama secara masif untuk mengampanyekan paham imperialisme dan kolonialisme yang dianutnya. Rasanya masih segar di ingatan bahwa pada dekade 60-an dulu, bangsa Indonesia pernah dan telah terhegemoni oleh proyek besar yang bernama modernisasi. Proyek besar yang konon mengedepankan paradigama pembangunan sebagai perspektif yang tunggal arah (unilinear) itu, dalam praktiknya, ternyata berkembang dalam bentuk westernisasi.

Sebagai negara berkembang yang sedang bermimpi menjadi negara modern ketika itu, disadari atau tidak disadari, Indonesia telah mengikuti dan menerapkan sepenuhnya model pembangunan dari Barat itu. Sialnya, ketika upaya “meniru” dan “menjadi” Barat itu belum selesai dilakukan Indonesia, proyek modernisasi itu telah menggurita menjadi globalisasi.

Baca lebih lanjut

Presiden

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 30 Agu 2014

Sebetulnya presiden itu apa, sih? Raja, ratu, dan sultan telah lama kita tahu. Kepala dan ketua sudah akrab kita kenal. Memang sejak punya republik, kita pun terbiasa dengan presiden walau tidak selalu begitu kita sapa. Kita lebih suka “Bung Karno”, “Pak Harto”, “Mbak Mega”, dst. Namun, presiden masih terasa jauh, kurang akrab. Kesannya malah lebih dekat kepada presiden direktur elite daripada presiden rakyat. Mungkin itu pula sebab partai politik jarang dipimpin presiden, kecuali agaknya partai yang jujur terbuka mengaku matanya lebih tertuju kepada kuasa daripada jelata.

Presiden punya arti khusus pemimpin negara dan pemerintahan di suatu republik, antitesis dari raja atau sultan di negeri monarki absolut. Republik ideal adalah demokrasi yang biasanya bersandarkan kedaulatan rakyat dan konstitusi. Karena kedua kata ini sangat melekat satu sama lain, sering kali terjadi circulus in definiendo, muter-muter dalam definisi. KBBI, misalnya merumuskan presiden sebagai kepala negara (bagi negara yang berbentuk republik) dan republik sebagai bentuk pemerintahan yang berkedaulatan rakyat dan dikepalai oleh seorang presiden. Bahkan, Oxford Advanced Learner’s Dictionary melakukan hal sama–presiden adalah pemimpin republik, sementara republik adalah negeri yang diperintah presiden…. Tentu harus dikatakan bahwa Oxford English Dictionary yang bergengsi itu tidak melakukan kekonyolan serupa.

Baca lebih lanjut

Ayam Arab, Ayam Kampung, Ayam Buras

Seno Gumira Ajidarma*, Majalah Tempo, 25 Agu 2014

Nun di Belgia, Eropa Barat, terdapatlah ayam petelur yang disebut ayam silver brakel kiel-setidaknya itulah yang disebutkan oleh Komunitas Peternak Ayam Berkualitas di Indonesia. Disebutkan, pada 1989, ayam bercorak burik hitam putih itu didatangkan beberapa ekor ke Temanggung, Jawa Tengah, demi kepentingan para kolektor ayam. Namun adalah para peternak yang membuatnya berkembang dan tersebar.

Produksinya kini tercatat 60-70 persen lebih tinggi daripada ayam kampung, yang hanya 30-40 persen. Sebagai pabrik telur, ayam dari Belgia ini, dari usia lima bulan sampai delapan tahun, setiap tahun bisa menghasilkan 260-270 telur. Lebih tinggi dari ayam ras petelur, yang setiap ekor hanya bertelur 230-240 butir per tahun.

Baca lebih lanjut

Sastra dan Tanda

Alex R Nainggolan, Riau Pos, 24 Agu 2014

Perlukah sastra sebuah tanda? Perlukah sastra sebuah identitas, semacam layaknya kartu tanda penduduk, yang dilengkapi dengan jenis kelamin atau agama? Saya rasa tidak. Seperti yang pernah diungkap H.B. Jassin—berpuluh tahun lampau—bahwa sastra itu universal. Sastra itu melingkupi kemanusiaan itu sendiri, menyeluruh, tanpa perlu diberikan benteng ataupun palang yang melingkupinya. Ia bisa bertindak bodoh, kemayu, wangi, amoral, religius, dsb. Sastra dengan kekayaan kata-kata yang diberkahinya melingkupi kehidupan itu sendiri.

Sastra hadir si setiap sisi kehidupan. Ia semacam cermin—sebagaimana yang pernah diungkap pemikir Yunani klasik—sebagai mimesis (tiruan) dari alam. Sastra melebur pada pencapaian estetika, yang hanya bisa dinikmati dengan pembacaan cerdas dan dalam. Sastra, dengan demikian, tak perlu dikotak-kotakan—sebagaimana yang kerap dilakukan oleh kalangan sastra(wan) itu sendiri—sebagai sastra(wan) Islami, sastra(wan) Utan Kayu, sastra(wan) eksil, sastra(wan) feminis, dsb..

Baca lebih lanjut

Disewa Helena

Sori Siregar*, KOMPAS, 23 Agu 2014

HELENA boleh membeli, menjual, atau menyewa apa saja. Tidak akan ada yang melarang, kecuali ia menyewa seseorang yang berdarah dingin untuk membunuh pacarnya.

Bagaimana jika nama Helena digunakan sebuah biro iklan atau bagian pemasaran sebuah real estat untuk kepentingan komersial? Misalnya, untuk memasarkan produk atau rumah di kawasan real estat itu. Mungkin Helena tidak akan keberatan, apalagi jika ia dibayar dengan segepok uang agar pundi-pundinya lebih menggelembung. Barangkali, ia juga tidak akan keberatan, bahkan mungkin bangga, kalau namanya disebut lagi sebagai penyewa atau pembeli sebuah rumah di kompleks real estat itu. Benarkah demikian?

Baca lebih lanjut

Merdeka, tapi Bebas Jugakah kita?

Sapardi Djoko Damono*, Majalah Tempo, 18 Agu 2014

Sejak 1945, setiap tanggal 17 Agustus kita merdeka. Itu sebabnya tanggal itu disebut Hari Kemerdekaan, yang kita rayakan dan keramatkan. Merdeka berarti memiliki hak untuk bertindak, berbicara, atau berpikir sesuai dengan kehendak masing-masing. Kemerdekaan juga berarti kekuasaan untuk menentukan nasib sendiri, tidak tergantung, dan bebas bergerak.

Kemerdekaan yang kita miliki merupakan hasil revolusi. Itu sebabnya sering kita dengar orang mengatakan satu-satunya jalan ke kemerdekaan adalah lewat revolusi meskipun hal ini tidak berlaku bagi semua negara. Banyak negara yang setiap tahun merayakan juga kemerdekaan tanpa pernah mengalami revolusi. Salah satu padanan kata “merdeka” adalah “bebas”, tapi kita rasanya tidak pernah menyebut tanggal 17 Agustus sebagai Hari Kebebasan. Paling tidak, istilah yang disebut terakhir itu kurang atau bahkan tidak lazim digunakan. Apakah hal itu karena kemerdekaan tidak identik atau tidak dengan sendirinya memberi kita kebebasan?

Baca lebih lanjut

Pernalaran

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 17 Agu 2014

Pernalaran dapat diartikan sebagai proses bernalar, yakni kegiatan berpikir secara teratur berdasarkan aturan logika. Dalam keseharian, proses bernalar yang mengikuti aturan logika itu sering disebut (kegiatan) analisis.

Menurut para ahli, kemampuan bernalar tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan seseorang. Orang yang ber-IQ tinggi belum tentu mampu bernalar jernih jika tidak terlatih. Sebaliknya, orang yang ber-IQ sedang-sedang saja dapat bernalar jernih jika rajin berlatih. Jadi, kuncinya adalah berlatih, berlatih, dan berlatih.

Baca lebih lanjut

Ekonom atau Ekonomis?

R. Tuwoliu Mangangue*, KOMPAS, 16 Agu 2014

Kata-kata dalam bahasa Indonesia, selain diserap dari bahasa daerah yang ada di Tanah Air, berasal dari bahasa asing. Inggris dan Belanda merupakan bahasa asing yang banyak diserap kata-katanya ke dalam bahasa kita. Kata musician dalam Inggris atau musicus dalam Belanda disebut musisi dalam Indonesia. Kata politician dalam Inggris atau politicus dalam Belanda dalam Indonesia disebut politisi. Kata legislator dalam Inggris atau legislatuur dalam Belanda dalam Indonesia disebut legislator.

Kecenderungan bahasa Indonesia rupanya berorientasi ke bahasa Inggris daripada ke bahasa asing lain. Namun, kadang-kadang kita tidak konsisten dengan orientasi ini.

Dulu kita memiliki beberapa adjektiva dalam bahasa Indonesia yang berakhiran -il seperti spirituil, insidentil, dan komersiil yang diserap dari adjektiva bahasa Belanda yang berakhiran -eel atau -ieel seperti spiritueel, incidenteel, dan commercieel. Namun, kini adjektiva itu tidak digunakan lagi karena orientasi bahasa kita telah berubah dari bahasa Belanda ke bahasa Inggris.

Baca lebih lanjut

Terjemahan

Goenawan Mohamad, Majalah Tempo, 11 Agu 2014

Lost in TranslationSaya tak mengerti mengapa film Lost in Translation disebut demikian. Karya Sofia Coppola ini bercerita tentang dua orang Amerika yang semula tak saling kenal di sebuah negeri asing, Jepang, dan akhirnya jadi akrab dan mesra, tapi tetap berpisah.

Mungkin di sini translation telah jadi sebuah kiasan. Terjemahan selalu mengandung momen pertemuan yang intens, bukan sekadar perjumpaan, dan dalam tiap pertemuan ada yang hilang, dilepas, tapi ada hal lain yang didapat. Kalaupun beberapa elemen tak kembali ketika sebuah karya dialihbahasakan ke dalam bahasa lain, selalu ada yang muncul baru.

Baca lebih lanjut

Jebred, Jebret, dan Jepret

Beni Setia*, Riau Pos, 10 Agu 2014

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1995) memuat lema nekad dan nekat. Lema nekad (yang tidak dirinci maknanya) dirujuk ke lema nekat (yang memiliki pendadaran makna lebih rinci). Artinya, nekat dianggap sebagai bentuk yang baku, bukan nekad. Sayang, tak diterangkan asal usul kedua lema itu. Apakah nekat itu memang berasal dari bahasa Jawa, seperti biasa terujuk dalam rumusan banda nekat ‘modal nekat’. Padahal, yang sebetulnya banda itu kukuh bergabung dengan donga: banda donga ‘modal doa’.

Mengapa kita (setidaknya penulis) merasa nekad lebih baku daripada nekat? Mungkin, karena nekat bercita rasa lokal, diserap dari bahasa Jawa. Anehnya, justru banyak orang yang menjadikan hal itu sebagai acuan. Contohnya, dalam pemberitaan Final Piala AFF 2013 U-19 di Sidoarjo lalu jebret tidak ditulis dengan /d/, tetapi dengan /t/.

Baca lebih lanjut