Perhelatan, Dihelat, Menghelat

Kurniawan*, Majalah Tempo, 20 Okt 2014

Akhir-akhir ini, ketika memberitakan acara kesenian hingga politik, media sering menggunakan kata “perhelatan”, “menghelat”, dan “dihelat”. Istilah “perhelatan” pada mulanya lazim digunakan untuk menyebut acara perkawinan, kenduri, atau selamatan. Malah para sastrawan Balai Pustaka lebih lazim menggunakan kata “helat” saja. Nur Sutan Iskandar dalam novel Salah Pilih (1928), misalnya, menulis, “Sekalian helat dan jamu itu dilayani oleh Ibu Liah dan Asnah sekuasa-kuasanya.”

Baca lebih lanjut

Membaca (dan) Teks

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 19 Okt 2014

Teks secara umum dimaknai sebagai tulisan, hasil (dari proses) menulis. Teks dapat berisi apa saja: tentang sesuatu, baik yang ada (berwujud, konkret) maupun yang tidak ada (tak berwujud, abstrak). Teks dapat berupa penggambaran, penceritaan, penjelasan, perintah, dan argumen(tasi) penulis terhadap sesuatu itu.

Baca lebih lanjut

Ihwal “-isasi”

Tendy K. Somantri*, KOMPAS, 18 Okt 2014

Pada sebuah pertemuan penerbitan pers internasional di Bangkok, Juni 2011, saya berbincang dengan beberapa editor dari Malaysia. Perbincangan kami berkisar pada perbandingan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu. Satu hal menarik yang kami perbincangkan saat itu adalah perbandingan penyerapan kata dari bahasa Inggris oleh bahasa Indonesia dan bahasa Melayu (Malaysia).

Baca lebih lanjut

Hattrick: Dari Cristiano Ronaldo hingga Stan Van Den Buijs

Imelda Yance*, Riau Pos, 12 Okt 2014

Dalam dua pekan terakhir, istilah hattrick, hat-trick, atau hat trick tiba-tiba marak dipakai dalam pemberitaan baik di media elektronik maupun cetak di tanah air. Kalau menyebut istilah itu, pastilah para pecinta sepak bola langsung ingat kepada bintang sepak bola Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Kali ini, bukan tentang sepak bola, tetapi bersangkut paut dengan orang nomor 1 di Bumi Lancang Kuning, Drs. H. Annas Maamun, Gubernur Riau; dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sang Gubernur tersangkut masalah hukum. Dua nama mantan Gubernur Riau, Drs. H. M. Rusli Zainal, M.P. dan H. Saleh Djasit, S.H., pun dikaitkan dengan istilah itu.

Baca lebih lanjut

Berandai-andai

Sori Siregar*, KOMPAS, 11 Okt 2014

Bukan hal aneh jika sebuah institusi atau seorang individu membuat alternatif saban menyusun rencana. Minimal alternatifnya satu, tetapi tak jarang pula dua, bahkan tiga. Langkah demikian diambil sebab tak seorang pun dapat memberi kepastian.

Contohnya seperti ini. Ketika Presiden Reagan akan dilantik untuk kali kedua, cuaca di Washington DC sangat tak bersahabat. Badai salju. Dinginnya membekukan sehingga pakaian berlapis-lapis pun tak banyak menolong. Karena Gedung Putih telah membuat Plan B sebagai alternatif, masalah segera dapat dipecahkan. Acara pelantikan dipindahkan ke dalam Gedung Bundar, tempat anggota Kongres bersidang. Selesai.

Baca lebih lanjut

Spiritualitas yang Hilang

Spritualitas

Ayu Utami*, Majalah Tempo, 6 Okt 2014

Saya pernah berdebat dengan editor saya tentang suatu cara pengungkapan. Kami sedang menyiapkan novel Bilangan Fu. Satu kalimat dalam naskah saya berstruktur ini: padaku ada sesuatu. Mungkin agar pembaca mudah paham, editor ingin menyederhanakan kalimat itu dan menggantinya jadi: aku punya sesuatu. Kenapa harus pakai struktur yang rumit jika ada yang lebih jelas? Kenapa gunakan tata bahasa kuno jika ada yang modern?

Baca lebih lanjut

Singkat Kata

Eko Endarmoko*, KOMPAS, 4 Okt 2014

Kependekan kata atau lebih lazim disebut singkatan pernah membuat gundah sekelompok pemerhati bahasa Indonesia karena pemakaiannya, terutama di media cetak dan media sosial, dianggap sudah sangat keterlaluan sampai-sampai mengancam bakal merusak bahasa Indonesia. Bagaimana bisa bahasa Indonesia—rumah bersama segenap penduduk Indonesia—menjadi rusak oleh pemakaian singkatan? Namun, apakah yang mendorong orang memendekkan kata?

Baca lebih lanjut

Politik dan Akronim

akronim-politik

Rocky Gerung*, Majalah Tempo, 29 Sep 2014

KontraS adalah akronim dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan. Itu resminya. Tapi sebetulnya ada sugesti subversif pada huruf S di ujung akronim: Soeharto. Jadi harus dibaca: Kontra-Soeharto. Memang demikianlah konteksnya.

Di hari pertama Orde Baru menetapkan larangan demonstrasi pada 23 Februari 1998, sejumlah aktivis perempuan Jakarta justru melawannya dengan turun berdemonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia membawa bendera Suara Ibu Peduli. Tuntutan mereka: “Turunkan Harga Susu”. Dalam hari-hari rapat persiapan demo itu, yang dimaksud sebetulnya adalah “Turunkan Soeharto”.

Baca lebih lanjut

Rutuk Radang Tentang Kata Tuhan

Tuhan-membusuk

T.G. Haji Syafruddin*, Riau Pos, 28 Sep 2014

Satu spanduk bertulisan “Tuhan Membusuk, Rekonstruksi Fundamentalisme Menuju Islam Kosmopolitan” terpampang di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, Surabaya, pada 28—30 Agustus 2014. Tulisan itu menjadi tema Orientasi Cinta Almamater (Oscaar) yang dilaksanakan Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema). Tak dinyana, isi spanduk itu berakibat rutuk radang dan kutuk amuk dan hamun buruk bagi mereka. Berbagai pihak bereaksi mengkritik dan mengecamnya sebagai tindakan yang tidak layak. Front Pembela Islam (FPI) Daerah Jawa Timur pun melaporkan pihak UIN Sunan Ampel kepada kepolisian.

Baca lebih lanjut