“Tradisi Baru” Jokowi

Taufik Ikram Jamil*, KOMPAS, 20 Sep 2014

Ini pengakuan kawan saya, Abdul Wahab, yang bertempat tinggal di sebuah pulau nun jauh di Selat Malaka sana. Pendakuannya, meskipun harus memerlukan pengamatan lebih lama, saya berpendapat bahwa presiden terpilih Joko Widodo alias Jokowi memiliki kecenderungan menggunakan bahasa dengan idiom cukup mengejutkan, untuk tidak buru-buru mengatakan telah membingungkan—maklum, hal tersebut diungkapkan oleh orang ternama dengan citra selalu positif. Jokowi antara lain menggunakan frasa tradisi baru.

Baca lebih lanjut

Dari Bistik ke Tayub Eropah

Zen Hae*, Majalah Tempo, 15 Sep 2014

Berdepan-depan dengan bahasa asing, bangsa kita menempuh pelbagai cara. Dari yang paling mudah, yakni menyerap, hingga yang sulit, yaitu menerjemahkan dan memadankan. Menyerap istilah asing sudah terjadi sejak pertama kali nenek moyang kita berhubungan dengan bangsa asing, terutama lewat perdagangan, penyebaran agama, dan penjajahan. Bahasa Indonesia hari ini adalah bahasa Melayu yang diperkaya oleh anasir bahasa Sanskerta, Arab, Persia, Hindi, Tamil, Portugis, Belanda, Cina, Jepang, dan Inggris-di samping anasir bahasa daerah.

Baca lebih lanjut

Kunci Inggris

André Möller*, KOMPAS, 13 Sep 2014

Kunci inggris bukan saja alat kecil untuk membuka atau mengancing pintu atau peti buatan Inggris, melainkan juga ”kunci yang dapat disetel untuk mengepaskan kepala baut atau mur”, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ketika kali pertama saya mendengar ayah mertua saya menyebut alat berguna ini kunci inggris, saya agak kaget karena saya berpikir ini adalah perkakas yang berasal dari tanah air saya, Swedia. Rasa nasionalisme di dalam dada ingin memprotes, tetapi akal sempat mengalahkan lidah kala itu. Untung saja, karena ternyata tidak semudah yang saya kira.

Baca lebih lanjut

Lewah

Uu Suhardi*, Majalah Tempo, 8 Sep 2014

Benarkah di dunia ini tidak ada yang sempurna? Ternyata ada, misalnya kalimat. “Saya pergi” adalah contoh kalimat sempurna. “Saya” sebagai subyek, sementara “pergi” sebagai predikat. Begitu sederhana, tapi justru kesederhanaan itulah yang menjadikannya sempurna.

Dalam teori jurnalistik, selalu dikatakan bahwa berita, agar “sempurna”, harus memenuhi unsur dasar 5W (who, what, when, where, why) dan 1H (how). Tapi penekanannya bisa berbeda-beda. Jika peristiwa yang hendak ditonjolkan, unsur what didahulukan. Bila pelaku, korban, atau saksi yang lebih penting, unsur who yang ditonjolkan. Unsur dalam 5W + 1H yang sering dipakai memang what dan who. Unsur when dan where digunakan sebagai pelengkap. Sedangkan why dan how dipakai sebagai penjelasan.

Baca lebih lanjut

Sembilan Kasus Salah Nalar (Bagian 1)

Agus Sri Danardana*, Riau Pos, 7 Sep 2014

Berbahasa dan bernalar (berlogika) adalah dua hal yang dapat dibedakan. Tidak semua orang yang mahir berbahasa menampakkan logikanya dalam bahasa yang digunakan. Padahal, konon, bahasa berpotensi sebagai pembangun logika.

Bernalar adalah berpikir tentang sesuatu, misalnya sebuah kenyataan, dengan berhati-hati dan teliti kemudian disusul dengan pemberian penilaian dan alasan (Purbo-Hadiwidjoyo, 1993:161). Dalam sebuah tulisan, misalnya, nalar penulis terlihat pada cara mengembangkan gagasan dalam sebuah paragraf. Nalar merupakan jiwa atau ruh paragraf, sedangkan kalimat-kalimat yang membentuk paragraf (beserta dengan ciri pola ataupun fungsi sistematikanya) hanyalah badan penampung jiwa itu. “Mens sana in corpore sano ‘dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula’,” kata pepatah.

Baca lebih lanjut

Kisah

Eko Endarmoko*,  KOMPAS, 6 Sep 2014

PENGERTIAN bahasa tampaknya sering disederhanakan semata sebagai perkakas bagi seseorang guna menyampaikan kabar, ide, atau kisah kepada orang lain. Pandangan instrumentalis juga memandang bahasa sebagai alat buat menyatakan perasaan. Karena sekadar alat, bahasa di situ jadi tidak lebih penting dari apa-apa yang ia bawa. Isi, atau fungsi, lebih penting ketimbang wadah, bahasa itu sendiri. Jalan berpikir seperti ini sedikit banyak ikut menyumbang maraknya bahasa yang kacau-balau, amburadul, tidak mengindahkan kaidah kebahasaan yang berlaku. Ingat saja ungkapan yang pernah, atau malah sering, kita dengar, ”Yang penting orang lain mengerti.” Titik. Habis perkara. Tidak ada lagi ruang diskusi.

Baca lebih lanjut

Bulur

Eko Endarmoko*, Majalah Tempo, 1 Sep 2014

Kata adalah perangkat paling penting dalam komunikasi. Ia semacam kendaraan pembawa bongkah-bongkah gagasan. Ia menjadi wadah, atau wakil, segala macam hal dari benda-benda di alam sekitar hingga konsep paling pelik. Bisa saja orang berkomunikasi tanpa sepatah kata pun, yaitu dengan bahasa isyarat. Tapi kualitas komunikasi di sana tentu sangatlah terbatas. Seorang dosen filsafat dapat kita bayangkan akan mengalami kesulitan menjelaskan pikiran-pikiran Ki Ageng Suryomentaram atau Heidegger di depan kelas dengan ragam bahasa itu. Sebaliknya, seorang tukang parkir bisa dengan mudah menjalankan kerjanya walau tanpa berkata-kata.

Baca lebih lanjut

Neokolonialisme

Agus Sri Danardana, Riau Pos, 31 Agu 2014

Apa yang terjadi sekarang ini sesungguhnya hanyalah pengulangan kejadian di masa lalu dalam bentuk lain. Jika dulu ada modernisasi, sekarang ada globalisasi. Keduanya tak pelak merupakan gerakan negara-negara maju (terutama Eropa dan Amerika) yang dilakukan bersama-sama secara masif untuk mengampanyekan paham imperialisme dan kolonialisme yang dianutnya. Rasanya masih segar di ingatan bahwa pada dekade 60-an dulu, bangsa Indonesia pernah dan telah terhegemoni oleh proyek besar yang bernama modernisasi. Proyek besar yang konon mengedepankan paradigama pembangunan sebagai perspektif yang tunggal arah (unilinear) itu, dalam praktiknya, ternyata berkembang dalam bentuk westernisasi.

Baca lebih lanjut

Presiden

Samsudin Berlian*, KOMPAS, 30 Agu 2014

Sebetulnya presiden itu apa, sih? Raja, ratu, dan sultan telah lama kita tahu. Kepala dan ketua sudah akrab kita kenal. Memang sejak punya republik, kita pun terbiasa dengan presiden walau tidak selalu begitu kita sapa. Kita lebih suka “Bung Karno”, “Pak Harto”, “Mbak Mega”, dst. Namun, presiden masih terasa jauh, kurang akrab. Kesannya malah lebih dekat kepada presiden direktur elite daripada presiden rakyat. Mungkin itu pula sebab partai politik jarang dipimpin presiden, kecuali agaknya partai yang jujur terbuka mengaku matanya lebih tertuju kepada kuasa daripada jelata.

Baca lebih lanjut