Karena Newsweek Berbahasa Inggris

Majalah Tempo, 4 Nov 2012. Ardi Winangun, Ketua Forum Alumni Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa, Megawati Institute.

Satu per satu edisi cetak majalah di Amerika Serikat mulai beralih ke digital. Setelah The Christian Science Monitor dan US News & World Report, kini giliran majalah Newsweek. Majalah Newsweek tidak terbit dalam edisi cetak dan beralih ke bentuk digital karena perusahaan disebut telah merugi US$ 40 juta (Rp 400 miliar).

Kerugian ini diakibatkan terjadinya penurunan iklan dan pelanggan. Disebutkan bahwa pelanggan yang awalnya pernah mencapai 3,15 juta pada 2000 saat ini turun menjadi 1,5 juta. Meski demikian, agar Newsweek tetap eksis dan bisa melayani pembaca setia, pelanggan bisa mengakses di Newsweek global, tapi tetap harus membayar.

Tumbangnya Newsweek dalam edisi cetak bisa jadi membuat majalah Time menjadi satu-satunya referensi untuk mengetahui kabar perkembangan berita internasional. Namun, belajar dari pengalaman media yang tumbang, seperti The Christian Science Monitor, US News & World Report, dan Newsweek, ancaman ini juga bisa menimpa Time.

Mengapa majalah sekelas Newsweek, dalam edisi cetak, bisa tumbang? Faktornya seperti yang diungkapkan di atas, yakni menurunnya jumlah pelanggan dan iklan. Namun, yang perlu kita cermati, faktor bahasa juga mempengaruhi tumbangnya Newsweek. Distribusi Newsweek ke seluruh dunia. Kita di Jakarta sangat mudah mendapatkan majalah ini. Namun yang tidak disadari oleh majalah internasional adalah bahwa tidak semua orang bisa membaca dan berbicara dalam bahasa Inggris. Harus diakui, bahasa Inggris adalah bahasa internasional, tapi bukan mayoritas alias tidak dominan.

Menurut sebuah data di media online, bahasa Mandarin adalah bahasa yang paling banyak digunakan orang dengan jumlah pengguna mencapai satu miliar manusia. Sedangkan bahasa Inggris merupakan bahasa kedua terbesar setelah bahasa Mandarin. Bahasa Inggris penggunanya mencapai 508 juta orang. Negara yang menggunakan bahasa ini sebagai bahasa resmi adalah Selandia Baru, Amerika Serikat, Australia, Inggris, Zimbabwe, negara-negara Karibia, Hong Kong, Afrika Selatan, dan Kanada.

Bahasa ketiga terbanyak di dunia yang digunakan adalah bahasa Hindustani. Bahasa yang sehari-hari digunakan di India ini digunakan oleh 497 juta orang. Sedangkan pengguna bahasa keempat terbesar adalah bahasa Spanyol. Bahasa ini, selain digunakan di Spanyol, dominan digunakan di negara Amerika Tengah dan Amerika Selatan, termasuk Kuba. Penggunanya mencapai 392 juta orang.

Bahasa Rusia merupakan bahasa dengan pengguna terbanyak kelima. Bahasa ini menyebar ke Belarus, Georgia, Kirgistan, Kazakstan, Moldova, dan negara pecahan Uni Soviet lainnya, serta digunakan imigran Rusia di mana pun negaranya. Bahasa Arab merupakan bahasa yang banyak digunakan setelah bahasa Rusia. Bahasa ini menjadi bahasa sehari-hari di Arab Saudi, Kuwait, Irak, Suriah, Yordania, Libanon, Mesir, dan negara Timur Tengah serta Arab lainnya.

Bahasa Bengali juga disebut sebagai bahasa yang banyak digunakan, dengan pengguna mencapai 230 juta orang. Bahasa ini digunakan di Bangladesh, daerah-daerah tertentu di India, dan Myanmar untuk suku Rohingya. Selanjutnya bahasa Portugis masuk menjadi bahasa terbesar kedelapan dengan pengguna 191 juta orang. Bahasa ini digunakan di Portugal, Brasil, Makau, Angola, Venezuela, Mozambik, dan Timor Leste. Kemudian bahasa kita, bahasa Indonesia, juga termasuk bahasa yang banyak digunakan orang. Bahasa Indonesia bisa dikatakan menyebar dan digunakan, selain di Indonesia, juga di Timor Leste, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Terakhir, bahasa Prancis masuk peringkat 10 besar bahasa yang paling digunakan orang. Penggunanya mencapai 129 juta orang, yang tersebar, selain di Prancis, di Belgia, Kanada, Rwanda, Kamerun, Guinea, Pantai Gading, Kongo, Niger, Haiti, Togo, Vanuatu, serta negara lainnya.

Penggunaan bahasa terbukti tidak tunggal atau satu bahasa. Setiap daerah dan wilayah geografis memiliki bahasa masing-masing. Dari perbedaan wilayah dan geografis, penggunaan bahasa juga mengundang sensitivitas dan anti-pengguna bahasa lain. Pernah sebuah peristiwa di Provinsi Quebec, Kanada, beberapa saat menjelang Forum Bahasa Prancis, para pengguna bahasa Prancis mengecam penggunaan bahasa Inggris. Mereka, pengguna bahasa Prancis, menuduh bahasa Inggris adalah obsesi dari dunia lain. Untuk itu, mereka sepakat membebaskan diri dari penggunaan bahasa Inggris.

Jika Newsweek mau mengembangkan pasarnya, seharusnya majalah ini juga terbit dalam edisi bahasa yang banyak dipakai orang, seperti bahasa Mandarin, Hindustani, Bengali, Rusia, Spanyol, Portugis, Prancis, dan Indonesia, untuk di negara masing-masing.

Penggunaan bahasa sesuai dengan negaranya inilah yang bisa membuat sebuah media menjadi familiar dan mudah diterima. Artinya, gunakanlah bahasa lokal setiap negara.

Google, Facebook, Twitter, YouTube, dan Yahoo sangat familiar dan bisa diterima ratusan juta orang di dunia karena memiliki fasilitas pilihan bahasa. Sedangkan Newsweek di negara mana pun tetap menggunakan edisi bahasa Inggris.

Seyogianya Newsweek menerapkan prinsip seperti yang dianut harian di Indonesia, dengan menampilkan bahasa dan berita lokal, semacam Radar oleh Jawa Pos atau Tribun oleh Kompas.

Sumber gambar: Wikipedia.

About these ads

2 thoughts on “Karena Newsweek Berbahasa Inggris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s