Bahasa Menunjukkan Bangsa

Pikiran Rakyat, 10 Apr 2010. Ajip Rosidi, Penulis, Budayawan.

Dalam bahasa Melayu ada peribasa “bahasa menunjukkan bangsa”. Kata “bangsa” di situ tidaklah menujuk kepada arti “bangsa” yang sekarang populer, yaitu sama artinya dengan nation, walaupun ketika peribahasa itu diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda dan digunakan dalam bahasa Sunda, artinya menjadi berubah karena dalam bahasa Sunda arti kata bangsa hanya menunjuk kepada nation. Sedangkan kita saksikan sendiri tidak semua bangsa mempunyai bahasa yang khas. Banyak bangsa yang mempergunakan bahasa yang lain, misalnya bangsa Amerika menggunakan bahasa Inggris, bangsa Kanada menggunakan bahasa Inggris dan Prancis, bangsa Swiss mempergunakan bahasa Prancis, Jerman, dan Italia. Bangsa India mempergunakan bahasa Inggris di samping mempergunakan belasan bahasa lain yang merupakan bahasa ibu di daerah-daerah tertentu.

Memang, arti bangsa dalam peribahasa “bahasa menunjukkan bangsa” itu bukan berarti nation, tetapi “bangsa” seperti yang kita pakai dalam perkataan “bangsawan”, “orang berbangsa”, yaitu menunjuk kepada golongan masyarakat atas dalam masyarakat Melayu pada waktu itu. Kaum “bangsawan” adalah golongan ningrat yang dianggap kedudukan sosialnya lebih tinggi daripada kaum petani, pedagang, atau tukang. Sebagai kaum ningrat, mereka menganggap perlu mendidik anak-anaknya agar belajar “berbahasa”. Artinya, mempelajari bahasa secara baik, sesuai dengan sopan santun pada waktu itu. Sedangkan golongan yang bukan berbangsa, yaitu yang bukan “orang berbangsa” tidaklah dianggap perlu untuk belajar mempergunakan bahasa secara khusus. Mereka dianggap cukup sekadar dapat berbicara dan pembicaraan dimengerti masyarakatnya.

Contoh nyata tentang peribahasa “bahasa menunjukkan bangsa” adalah Amir Hamzah, penyair Pudjangga Baru yang mati muda. Amir adalah kemenakan Sultan Langkat, jadi dalam masyarakat Melayu termasuk “orang berbangsa”. Sebagai “orang berbangsa” sejak kecil Amir belajar berbahasa dengan intensif antara lain dengan membaca karya-karya klasik dalam bahasa Melayu seperti “Hikayat Melayu”, “Gurindam Dua Belas”, dan yang lain-lainnya yang menjadi isi perpustakaan istana yang isinya kaya. Salah satu sarat menjadi “orang berbangsa” ialah tahu akan kekayaan kesusastraannya. Artinya, pendidikan berbahasa orang berbangsa berarti juga mengenal kekayaan karya kesusastraan bangsanya. Kalau kita membaca karya-karya Amir Hamzah kita tahu bahwa dia benar-benar mengenal kekayaan sastra bangsanya — di samping mengenal juga sastra asing yang dia pelajari di bangku sekolah Belanda yang ditempuhnya.

Dengan demikian, peribahasa “bahasa menunjukkan bangsa” itu merujuk kepada cara bicara dan isi pembicaraan orang “berbangsa” yang berlainan dengan cara bicara dan isi pembicaraan orang kebanyakan. Artinya, dengan mendengar dan cara seseorang bicara, kita bisa mengetahui apakah dia orang berbangsa atau hanya orang kebanyakan.

Meskipun bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, tetapi masyarakat yang mempergunakannya sudah berubah. Sebagai bangsa yang demokratis, di Indonesia tidak ada lagi golongan “bangsawan” atau “orang berbangsa”. Dalam masyarakat demokratis setiap orang dan setiap golongan sama kedudukannya.

Akan tetapi, masalahnya dengan perubahan itu, tidak ada lagi golongan masyarakat yang merasa perlu mempelajari bahasa secara khusus sehingga dapat berbicara dengan baik. Pelajaran bahasa Indonesia yang diberikan di sekolah-sekolah ternyata tidak efektif sehingga setelah terjun ke masyarakat bahasa yang digunakannya sekadar “pokoknya bisa dimengerti”. Sedangkan kesusastraan tidak pernah dianggap penting dalam pendidikan anak Indonesia di sekolah dan di luarnya. Perpustakaan tidak dianggap penting. Oleh karena itu, bangsa Indonesia termasuk yang rendah tingkat bacanya.

Pemakaian bahasa tidak sekadar mempergunakan kata-kata yang jelas artinya, yaitu dapat dimengerti oleh orang diajak bicara, melainkan juga belajar mempergunakan kata-kata sesuai dengan situasi dan dengan kesopanan masyarakat tempatnya bicara. Dalam situasi tertentu ada kata-kata yang tak patut diucapkan, walaupun arti kata tersebut sesuai dengan maksud si pembicara. Di kalangan tertentu ada kata-kata yang tabu diucapkan walaupun kita anggap kata itulah yang paling tepat untuk menyampaikan maksud kita.

Kalau ada orang yang tidak mematuhi ketentuan-ketentuan kesopanan umum itu, orang itu akan dianggap bahwa dia bukan “orang berbangsa”. Misalnya di dalam sidang parlemen, yaitu lembaga demokrasi yang terhormat, tidaklah patut diucapkan kata-kata makian seperti “bangsat”. Kalau ada anggota parlemen yang mengucapkannya, kita tahu bahwa dia bukanlah “orang berbangsa”. Artinya, dia orang yang tidak tahu adat kesopanan yang seyogianya menjadi ketetapan dalam lembaga seperti parlemen.

Terjadinya peristiwa anggota parlemen yang notabene lulusan perguruan tinggi mengucapkan kata “bangsat” dalam sidang resmi menunjukkan bahwa pelajaran “berbahasa” di negeri kita tidak berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun sudah lulus dari perguruan tinggi, ternyata ada anggota parlemen kita yang (seharusnya) terhormat yang tidak tahu menempatkan kata-kata yang diucapkannya. Dia tidak tahu mana kata yang patut diucapkan dan mana yang tidak patut di dalam sidang parlemen yang terhormat. Jelas hal itu menunjukkan bahwa pelajaran berbahasa kita di sekolah-sekolah tidak berhasil mendidik muridnya untuk menjadi orang “berbangsa” — meskipun sudah terpilih oleh konstituennya menjadi anggota lembaga yang terhormat.

Iklan

6 komentar di “Bahasa Menunjukkan Bangsa

  1. Terimakasih, artikel ini telah menambah wawasan saya. Sangat menyedihkan memang kalau pada kenyataannya sekarang pelajaran bahasa Indonesia yang diberikan di sekolah-sekolah ternyata tidak efektif. Lalu siapa yang salah…guru? muridnya? pemerintah? masyarakat?
    Sangat menyedihkan pula kalau saya membaca buku-buku pelajaran sekolah (terutama setingkat SD/SMP dan di luar DKI), karena penggunaan bahasanya yang sangat tidak logis dan “amburadul”, jauh dari kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan cara berfikir yang logis…!
    Mengapa buku-buku spt ini digunakan sbg text-book / buku pegangan…? mau dikemanakan anak-anak kita…?

  2. … atau dengan kata lain, kalau menurut artikel ini, “bangsa” di sini bisa diartikan sebagai “beradab” dan/atau “terpelajar” kali ya? Lawannya, kalau menggunakan bahasa secara tidak benar, ya berarti orang itu tidak punya adab dan/atau tidak terpelajar alias urakan. IMO :)

  3. Terimakasih, saya baru tahu kalau arti ‘bangsa’ dala “Bahasa menunjukkan bangsa” bukan berarti nation.
    Kita prihatin dengan pendidikan dan pengajaran bahasa Indonesia yang kurang mengutamakan kesantunan berbahasa.Mestinya pragmatik banyak di berikan di sekolah tidak hanya kognitifnya saja.

  4. Pada hakekatnya pada waktu sebelum Sumpah Pemuda, tahun 1928, ada dua Bahasa Melayu di . Yang dipergunakan di Sumatra dan Semenanjung Malaya pada waktu itu menggunakan tulisan2 Arab, sedangkan yang dipergunakan di Kepulauan Netherlands Indies menggunakan tulisan Roman modern. Kita harus mengingat bahwa pada waktu itu bahasa2 daerah masih sangat kuat. Orang2 Jawa hanya berbicara Jawa, orang2 Sunda hanya berbicara Sunda, dsb. Yang banyak menggunakan Bahasa Melayu di kepulauan Netherlands Indies pada waktu itu terutama dalam surat2 kabar mereka malahan adalah orang2 Indo (setengah Indonesia dan setengah Belanda). Menurut saya justru Bahasa Melayu merekalah yang menjadi dasar Bahasa Indonesia. Lihatlah arsip surat2 kabar seperti Lokomotief, di Semarang, dan bandingkanlah Bahsa Indonesia modern sekarang dengan yang mereka pergunakan – ternyata hampir sama!

  5. Ping balik: BAHASA MENUNJUKKAN BANGSA – blog!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.