Radikal(-isme)

KOMPAS, 12 Okt 2012. Kasijanto Sastrodinomo, Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI.

Sumber gambar: Radical parenting

Belum lama berlalu Museum Kebangkitan Nasional di Jakarta menggelar seminar peringatan seabad Indische Partij (IP). Dimotori oleh Ernest Douwes Dekker, seorang Indo yang berganti nama Setiabudi, IP merupakan partai politik pertama di masa jajahan yang diresmikan pada 6 September 1912. Dari sisi gerakan kebangsaan, arti penting IP terletak pada ketegasan sikapnya: menuntut Indonesia merdeka. Pemerintah kolonial menudingnya sebagai organisasi radikal di tengah kebijakan Politik Etis yang berlanggam kalem kala itu. Sebaliknya, label radikal menandakan IP bergaris politik keras.

Dalam disertasinya, ”Islam and Communism: An Illumination of the People’s Movement in Java” (1986), Takashi Shiraisi melihat nada bahasa tokoh-tokoh IP mengguncang. Douwes Dekker, misalnya, pernah berseru lantang: pembentukan IP merupakan ”genderang perang” yang dia maknai sebagai ”cahaya terang yang melawan kegelapan, kebaikan melawan kejahatan, peradaban melawan tirani, budak pembayar pajak melawan negara kolonial pemungut pajak”. Meski kerap mengundang kerumunan pengikutnya dalam rapat terbuka, IP dengan mutu keradikalannya terlihat dari kemajuan berpikir, bukan pengerahan massa yang anarkistis.

Kata radikal terbentuk dari bahasa Latin radix yang secara literal, menurut The Concise Oxford Dictionary (1987), berarti ’akar’, ’sumber’, atau ’asal-mula’. Dimaknai lebih luas, radikal mengacu pada hal-hal mendasar, pokok, dan esensial atas bermacam gejala. Berdasarkan konotasinya yang luas, kata itu mendapatkan makna teknis dalam berbagai ranah ilmu: botani, matematika, bahkan filologi dan musik. Botani, misalnya, memanfaatkan arti asali kata itu, ’akar’, untuk menyebut bagian tetumbuhan. Dalam matematika, akar adalah tanda bagi suatu dasar skala numerasi.

Di Inggris awal abad ke-19, istilah the Radicals merujuk pada kelompok pemimpin buruh dan kaum kapitalis industri baru yang merasa belum terwakili di parlemen. Mereka selalu ”menuju akar” dalam pemikirannya, menuntut rekonstruksi total terhadap hukum, peradilan, dan pemerintahan atas dasar ”the very nature and psychology of man himself” (RR Palmer dan Joel Colton dalam A History of the Modern World, 1983). Mereka juga antiklerik, membenci gereja, aristokrasi, dan tuan tanah. Di Perancis, kaum Radikal berasal dari para republikan militan yang mewarisi semangat ”Jakobinisme”, grup intelegensia, buruh, dan veteran perang beserta anak-keponakannya yang selalu membanggakan Revolusi.

Selama ini penganut radikalisme dikaitkan dengan kelompok kiri marxistis keras. Namun, istilah radikal bersifat ambigu seperti terlihat pada frase ”kanan radikal” yang berasosiasi dengan gerakan keagamaan dan fasisme di masa perang. Di Amerika Serikat kurun 1950-an, sebutan ”kanan radikal” tertuju kepada sayap isolasionis konservatif Partai Republik yang sangat antikomunis, dan politik menghadang Demokrat. Intinya, radikal, atau radikalisme sebagai istilah paham, dipakai untuk menyebut gaya politik yang bercitra ekstrem; berbeda dari moderat, konvensional, bahkan menjauh dari legal.

Teranyar, Kuntoro Mangkusubroto berujar perlu langkah radikal mengatasi kemacetan lalu lintas di Jakarta. Maksud kata radikal di sini adalah ’upaya tak biasa’ atau ’terobosan’ (Kompas, 18 September). Jadi, tentang metodologi yang mungkin saja akan dinilai melenceng dari prosedur rutin, bahkan nirdemokratis. Kalau boleh memelesetkan ucapan Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan itu, kita memang perlu keradikalan dalam artian metodologis ini untuk menjebol banyak kemacetan yang lain.

Iklan

One thought on “Radikal(-isme)

  1. Ping-balik: Aktivitas Radikal Di Masjid Salman ITB - myQuran.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s