Terjemahan

Goenawan Mohamad, Majalah Tempo, 11 Agu 2014

Lost in TranslationSaya tak mengerti mengapa film Lost in Translation disebut demikian. Karya Sofia Coppola ini bercerita tentang dua orang Amerika yang semula tak saling kenal di sebuah negeri asing, Jepang, dan akhirnya jadi akrab dan mesra, tapi tetap berpisah.

Mungkin di sini translation telah jadi sebuah kiasan. Terjemahan selalu mengandung momen pertemuan yang intens, bukan sekadar perjumpaan, dan dalam tiap pertemuan ada yang hilang, dilepas, tapi ada hal lain yang didapat. Kalaupun beberapa elemen tak kembali ketika sebuah karya dialihbahasakan ke dalam bahasa lain, selalu ada yang muncul baru.

Itulah yang terjadi ketika Chairil Anwar menerjemahkan sajak yang diberi judul “Huesca”.

Jiwa di dunia yang hilang jiwa
jiwa sayang, kenangan padamu
adalah derita di sisiku
bayangan yang bikin tinjauan beku

angin bangkit ketika senja
mengingatkan ku musim gugur akan tiba
aku cemas akan kehilangan kau
aku cemas pada kecemasanku

di batu penghabisan ke Huesca
di batas terakhir dari kebanggaan kita
kenanglah sayang, dengan mesra
kau kubayangkan di sisiku ada

dan jika untung malang menghamparkan
aku dalam kuburan dangkal
ingatlah sebisamu segala yang indah
dan cintaku yang kekal.

Baris-baris versi Inggrisnya, karya John Cornford:

Heart of the heartless world,
Dear heart, the thought of you
Is the pain at my side,
The shadow that chills my view.

The wind rises in the evening,
Reminds that autumn is near.
I am afraid to lose you,
I am afraid of my fear.

On the last mile to Huesca,
The last fence for our pride,
Think so kindly, dear, that I
Sense you at my side.

And if bad luck should lay my strength
Into the shallow grave,
Remember all the good you can;
Don’t forget my love.

Kedua versi itu sama-sama menggetarkan, tapi bisa kita lihat bedanya: Chairil memakai kata “jiwa”, Cornford kata “heart”. Dalam ilmu anatomi, kata “heart” memang problematis ketika diterjemahkan menjadi “hati”, tapi dalam puisi bisa kita abaikan soal itu. Dalam sajak Cornford, “the heartless world” membawa kita ke sebuah keadaan yang bengis, dunia yang tak punya hati.

Saya kira kata “Huesca” menunjukkan latar sajak ini.

Huesca adalah kota kecil di timur laut Spanyol yang diperebutkan dengan sengit dalam Perang Saudara Spanyol pada 1937. Tentara Republik, dibantu brigade internasional yang didukung pejuang (tak sedikit sastrawan dan cendekiawan) dari pelbagai negara, menyiapkan serbuan ke Huesca yang dikuasai kaum Fasis dan tentara Nasionalis. John Cornford, anggota Partai Komunis Inggris, ikut bertempur. Sajak ini ditulis di masa persiapan serbuan itu; baris ini menunjukkannya: ia menyebut Huesca sebagai the last fence for our pride, “pagar terakhir bagi harga diri kita”.

Percobaan merebut Huesca, berlangsung pada 12-19 Juni 1937, gagal. Komandan pasukan komunis, penulis Hungaria Máté Zalka, gugur. Cornford sendiri tewas kemudian, di dekat Cordoba, pada hari ulang tahunnya yang ke-21. Tampak ia sudah melihat kemungkinan itu, seperti tertulis dalam bait terakhir yang menyebut “into the shallow grave”.

Chairil menerjemahkan bagian ini dengan sangat menyentuh:

dan jika untung malang menghamparkan
aku dalam kuburan dangkal
ingatlah sebisamu segala yang indah
dan cintaku yang kekal.

Bunyi “al” yang berulang itu menimbulkan gema yang bertentangan dan justru membuat nada lembut bait ini lebih terasa. Bagi saya, Chairil lebih kuat dalam menyampaikan suasana hati di sini ketimbang Cornford. Tapi ia tak bisa mengulangi situasi tegang yang tebersit dalam sajak penyair Inggris itu.

Bahasa Inggris, yang kaya dengan kata yang terdiri atas satu suku kata (heart, thought, pain, fence, pride) dan tiap kata mengandung tekanan yang membentuk ritme, memungkinkan Cornford membangun frasa-frasa seperti derap langkah prajurit. Kata-kata “the heartless world” jadi terasa menusuk hati: dunia bengis dan kita sedang terlibat dan bertempur di dalamnya. Ada firasat tentang kematian, tapi dihadapi dengan berani. Cornford mengucapkan “the last fence for our pride”: kata “for” menunjukkan gerak maju.

Chairil tak menggambarkan situasi sebuah dunia yang bengis. “Dunia yang hilang jiwa” lebih menggambarkan sebuah dunia yang letargik, tanpa gerak. Dalam kata-kata “batas terakhir dari kebanggaan kita” (ia pakai “dari”, bukan “untuk”) tersirat posisi yang defensif.

Tak ada nada keberanian yang berbaur dengan rindu dan kepedihan dalam versi Chairil. Tapi kita mendapatkan sesuatu yang baru: gambaran kemurungan manusia dalam dunia yang letargik, yang “hilang jiwa”.

Tampak konteks berubah: Chairil tak menuliskannya di sebuah pertempuran untuk menegakkan dunia yang lebih baik, di mana manusia bisa punya harga diri. Tak berarti terjemahan Chairil meleset.

Terjemahan yang baik bukanlah sebuah fotokopi karya yang diterjemahkan. Bahasa, dalam kehidupan, dalam karya kreatif, tiap kali merupakan metamorfosis.

Menerjemahkan “to be or not to be” satu baris dalam Hamlet yang termasyhur menjadi “mengada atau tak mengada” (dalam versi Rendra) atau “ada atau tiada” (dalam versi Trisno Sumardjo) berarti meletakkan adegan kegalauan Hamlet ke dalam sebuah momen diskursif, seperti ketika seorang filosof menghadapi masalah epistemologis. Tapi, bila kalimat itu diterjemahkan menjadi “hidup atau mati, itulah persoalannya”, kita akan meletakkan Hamlet dalam situasi eksistensial yang mencengkam: Pangeran Denmark ini harus membalas kematian ayahnya dan menumbangkan raja yang tak sah, dan ia tahu ia berada dalam bahaya.

Mana yang benar? Sang penerjemah punya tafsir dan kedaulatannya sendiri.

Mungkin karena itu penyair Sapardi Djoko Damono ia juga penerjemah yang ulung pernah mengatakan tak ada penerjemahan yang salah; yang ada adalah karya (yang disebut “terjemahan”) yang berhasil atau yang gagal menyentuh kita.

Iklan

5 thoughts on “Terjemahan

  1. Ping-balik: Penerjemah | Rubrik Bahasa

  2. Ping-balik: Penerjemah – pendekkatablog

  3. Translation. trans-lation. trans menyeberang. lation membawa. seakar dengan transfer. trans menyeberang. fer membawa. sebuah teks ditranslasi dari satu diskursus ke diskursus lain. entah dari diskursus bahasa satu ke diskursus bahasa lain. atau dari satu diskursus bahasa ke diskursus non bahasa. misalnya sebuah novel difilmkan. atau sebuah sajak ditarikan. semua itu translasi. semua itu transfer.

    lost in translation, kesasar dalam pemindahan menyeberang.menyeberang mungkin dari Amerika ke Jepang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s