Tenggak Bir dan Pamer Dengkul

Mulyo Sunyoto* (Kompas, 21 Mei 2016)

Inilah narasi ringkas perkara salah kaprah. Di ranah ujaran. Lisan dan tulisan.

Ada sesosok pewarta foto. Ia bekerja di lembaga pemberitaan milik pemerintah. Rada-rada nyentrik, ia selamanya ke kantor dengan oblong, selamanya warna gulita, dipermegah potongan rambut semode anak tukang kayu dari Nazaret.

Pencapaian jurnalistiknya jangan tanya. Jangan-jangan Anda mengenalnya. Santun, sih, santun; sopan, sih, sopan; tapi kebiasaannya yang tak lumrah itulah yang membuat beberapa kolega mencelanya. Ia doyan sekali, di mana pun, juga di kantor, menenggak bir, sehari mungkin sekaleng dua.

Baginya bir itu bukanlah minuman setan buat menangguk mabuk, tapi penaka teh ginastel di lidah orang Yogya. Entah apa reaksinya ketika para politisi gencar menyingkirkan bir dari warung-warung. Yang pasti, sampai kini ia tetap menyeruput bir kemasan kaleng selagi kerja, di kantor.

”Tak etislah nenggak bir di kantor,” itulah komentar yang terlontar beberapa orang, rekan kerja sang fotografer. Tentu kata-kata itu diucapkan tak di depannya, jauh dari telinganya.

Kalimat senada pernah terucap dalam kancah sejarah politik di negeri ini. ”Tak etislah pamer dengkul di istana,” kata politisi di Senayan. Penilaian itu disemburkan musuh ideologis Gus Dur ketika presiden keempat Indonesia itu, menjelang kejatuhannya, berdiri bercelana kolor di tangga Istana Merdeka dalam sorot kamera pers.

Baiklah, sang fotografer dan kepala negara itu boleh jadi bertingkah tidak pantas, tidak patut, tidak sopan, tidak santun. (Sebut adjektiva apa saja yang sepadan dengan situasi kepantasan.) Namun, menilai dua figur itu tidak etis karena mereka berkiprah tak lumrah, nenggak bir di kantor, pamer dengkul di depan istana, agaknya berlebihan. Salah kaprah dalam memaknai adjektiva etis, yang dipadankan dengan sopan, santun, pantas, patut, ramah, halus, lembut (bertutur kata) berlangsung di mana-mana, sampai hari ini.

Tak perlulah menelisik bagaimana kesalahan umum kebahasaan itu terbentuk. Yang pasti, Kamus Besar Bahasa Indonesia mengukuhkan kekeliruan berjamaah itu. Di situ, dalam penjelasan kedua tentang lema etis, disebut ’sesuai dengan asas perilaku yang disepakati secara umum’. Penjelasan itu perlu digugat dengan argumen berikut. Etis adalah kata sifat yang diturunkan dari nomina etika, yang bersangkut-paut dengan perkara moral. Hanya perilaku yang berkaitan dengan moralitaslah yang masuk dalam lingkup perbuatan etis. Perkara sopan santun, kepantasan, aturan tata tertib sosial masuk dalam konsep etiket. Bagaimana mengadjektifkan kata benda abstrak ini? ”Etiketis,” usul tolan penggumul semantika. Hingga saat ini agaknya belum satu pun kamus dan tesaurus yang menampung usul itu. Tesamoko, Tesaurus Bahasa Indonesia Edisi Kedua, April 2016, sususan Eko Endarmoko masih menaruh perkara etis-etika sekandang dengan santun-kesantunan.

Tergerak naluri membanding-bandingkan, saya tengok Roget’s Thesaurus (21st Century Thesaurus, Third Edition Copyright © 2013 by the Philip Lief Group). Wauw, ethical tak masuk kurungan segugus adjektiva yang mengacu kesopansantunan: polite, courteous, courtly, friendly, gentle, gracious, urbane, sociable. Di sini urusan etika dan kesantunan jangankan beririsan, bersinggungan pun tak.

Dalam mukadimah edisi kedua tesaurusnya, Eko mewartakan perbaikan pada edisi Tesamoko dari Tesaurus Bahasa Indonesia Edisi Perdana. Sejumlah sinonim dalam beberapa lema ditanggalkan karena belakangan dinilai tak memiliki tautan makna. Dia menulis: ”Sinonim 2 kata ’heran’ saya tanggalkan, sebab tak punya pertalian makna. Kedua kata itu, ’ajaib, aneh’, saya pikir lebih merupakan sebab yang mendatangkan heran, tetapi bukan heran itu sendiri.”

Nah, di edisi revisi kelak, pecabutan serupa bisalah dilakukan untuk etis sebagai padanan sejumlah lema yang berkaitan dengan kesopansantunan. Atau, untuk menghargai usul kreatif, bukan penanggalan yang diperlukan, tapi penggantian: etis menjadi etiketis. Begitulah, sebentuk salah kaprah pun terkoreksi, di ranah literasi.

* Magister Pendidikan Bahasa, Bekerja di Kantor Berita

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s