Zonasi atau Rayonisasi?

Bambang Kaswanti Purwo (Kompas, 16 Jul 2016)

Harian ini dalam terbitan 24 Juni lalu menampilkan tulisan ”Jalur Zonasi Jadi Tumpuan Calon Siswa”. Di dalamnya diuraikan kebijakan zonasi dalam kaitan dengan usaha supaya anak disekolahkan di wilayah yang dekat tempat tinggal. Dengan demikian, terkurangi biaya transportasi dan kemacetan lalu lintas dan terhilangkan label sekolah unggulan atau favorit.

Akan tetapi, mengapa dipakai kata zonasi? Kata ini mengandung bunyi [z], bunyi yang tidak mudah diucapkan dengan lidah kita, penutur bahasa Indonesia.

Memang terdapat beberapa kata dengan bunyi [z] yang sudah diserap ke bahasa Indonesia: zaman, rezeki, ziarah, ijazah, lazim, zebra. Namun, dalam pemakaian, pada waktu kata-kata seperti itu diucapkan, bukan bunyi [z] yang terdengar, melainkan bunyi seperti [j] untuk zaman, rezeki, dan ziarah, atau bunyi mirip [s] untuk ijazah, lazim, dan zebra. Ini pertanda bahwa mulut kita terepotkan mengucapkan bunyi [z]. Mengucapkannya tidak semudah menuliskannya. Maka, terbuka kemungkinan bahwa kata zonasi, karena sulitnya bunyi [z] diucapkan, terutama bagi yang kurang mengenal kata ini, akan terdengar sebagai donasi.

Mengapa dipilih kata zonasi untuk mewilayahkan sekolah anak supaya tidak jauh jaraknya dari tempat tinggal? Mengapa tidak dicari kata yang memudahkan mulut kita? Mengapa tidak dipungut kata dengan bunyi yang mengikuti sistem bunyi yang terdapat di dalam bahasa kita? Sebelumnya, tindakan menempatkan anak pada sekolah yang dekat dengan tempat tinggal dikenal dengan istilah rayonisasi. Kalau, karena pekerjaan, orangtua harus berpindah rumah dari Jakarta Barat ke Jakarta Timur, misalnya, maka anak ”pindah rayon sekolah”. Kata ini sudah beredar luas dan lebih mudah dipahami maknanya. Di dalamnya pun tidak terdapat bunyi yang menyulitkan mulut orang Indonesia untuk mengucapkannya.

Merdeka.com 19 Desember 2012 menurunkan berita ”Ahok usulkan sistem rayonisasi untuk penerimaan siswa”. Galamedianews.com 26 Mei 2015 mengulas berita Ridwan Kamil, wali kota Bandung, memastikan penerimaan peserta didik baru di Bandung agar memberlakukan sistem rayonisasi. Istilah ”rayonisasi”, bukan ”zonasi” yang muncul pada berita tahun 2012 dan 2015 itu. Akan tetapi, bukan rayonisasi, melainkan zonasi yang dimuat di Kompas, 24 Juni 2016.

Pemunculan kata zonasi sebagai istilah di dunia pendidikan termasuk hal yang baru. Sudah lebih lama kata ini muncul pada konteks lain, misalnya di dalam pembicaraan mengenai perencanaan tata ruang dalam kota. Pada Ketentuan Umum UU No 26 Tahun 2007, Pasal 36 Ayat 1, tertera ”peraturan zonasi” (zoning regulation). Kata itu dipakai dalam rangkaian kata seperti zonasi kawasan pesisir, zonasi gempa di Indonesia.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencatat kata zonasi dengan makna mengenai pembagian wilayah. Terdapat dua pengertian pembagian wilayah. Yang dipaparkan pada berita Kompas 24 Juni itu pembagian wilayah sekolah dalam kaitan dengan kedekatan tempat tinggal siswa. Ini tidak tercantum pada makna zonasi yang dipaparkan pada KBBI. Yang tercantum adalah pembagian wilayah seluruh kota yang diklasifikasikan berdasarkan peruntukannya atau kondisi dan potensinya.

zonasi /zo.na.si/n pembagian atau pemecahan suatu areal menjadi beberapa bagian, sesuai dengan fungsi dan tujuan pengelolaan

— taman nasional pembagian wilayah pengelolaan kawasan taman nasional ke dalam unit pengelolaan, sesuai dengan peruntukannya serta kondisi dan potensi kawasannya agar dapat diciptakan perlakuan pengelolaan yang tepat, efektif, dan efisien.

Pertanyaannya adalah apakah makna pada berita di Kompas, 24 Juni itu ditambahkan pada uraian makna zonasi pada KBBI? Atau, kata zonasi pada Kompas, 24 Juni itu tidak digunakan lagi dan kemudian diganti dengan kata rayonisasi, mengikuti paparan makna rayonisasi pada KBBI ini? Yang terakhir ini, jika hendak dibuat berwarna Indonesia, daripada perayonan dapat ditawarkan pewilayahan.

rayonisasi /ra.yo.ni.sa.si/n pembagian wilayah atas beberapa rayon; perayonan.

* Pencinta Bahasa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s